Makna filosofi yang terkandung pada gebyok jati jawa

Thursday, November 5th 2020. | Furniture

Gebyok tidak hanya kerajinan tapi menyiratkan makna tertentu. Pada masa pemerintahan Ratu Kalinyamat, pemimpin Jepara pada abad ke-16, gebyok telah dibuat dan menjadi masterpice. Gebyok ini mencerminkan pemikiran dan perasaan estetika dan etika. Gebyok bukan hanya bentuk yang tidak berarti apa-apa. Gebyok mengacu pada hikmat manusia.

Leo Tolstoy mengatakan bahwa “Seni itu bukan kerajinan, melainkan perwujudan perasaan dan pengalaman seniman. Sedangkan kerajinan perulangan kemahiran yang turun temurun. Kerajinan tidak mencerminkan perasaan seniman, melainkan mencerminkan rajin- sregrep– dari pembuatnya tersebut. Tapi coba kita lihat gebyok.

Catatan : untuk pembeli,pemesanan atau pun info lengkap nya bisa anda temukan melalui tautan link berikut ini ” gebyok jati

Gebyok yang telah dikembangkan selama pemerintahan Ratu Kalinyamat ini adalah rumah kayu dipenuhi oleh kayu-ukiran pada kayu. Gebyok tujan dibuat untuk mencapai praktis, etika, dan estetika.

Sebagai kebutuhan praktis, gebyok adalah rumah yang layak. Meskipun kaya diukir, namun tidak meninggalkan rumah serta kekuatan penyangga. Dan rumah ini bukan rumah biasa. Sebaliknya terhormat rumah. Bayangkan, untuk membuat pemilihan kayu gebyok yang diperlukan dan sumber daya manusia waktu yang cukup dan memadai.

Gebyok juga memiliki nilai etika. Gebyok memberikan pesan spiritual bagi penghuninya. Ukiran di gebyok (SP Gustami, 2008) menceritakan tujuan hidup manusia -sangkan paraning dumadi-: harmoni, kemakmuran dan perdamaian.

Gebyok desain harmoni menunjukkan pentingnya hidup harmonis dengan alam. Gebyok juga menandatangani di jalan ke surga, naik dan turun dari roh-roh nenek moyang. swastika adalah simbol harmoni dan keseimbangan hidup. Bung bambu merupakan simbol regenerasi, kesuburan dan keberlanjutan. Kala makara merupakan simbol cinta antara ibu dan anak.

Tak heran jika gebyok atau piramida rumah, tak berpenghuni tua bangsa joglo dari roh-roh, partikel kayu yang digunakan roh berada tentu saja kayu pilihan dan memiliki kekuatan magis, bagi mereka yang percaya.

Jangan terkejut jika kita kemudian membeli gebyok / lawasan piramida rumah yang benar-benar bagus biasanya berpenghuni, ada beberapa yang sengaja cuti dan pindah beberapa tempat sebagai kehendak calon pembeli.

Sekarang gebyok warisan budaya Indonesia yang tidak terbatas pada satu era. Gebyok penuh metafora dan pesan tentang kehidupan kebijakan kesejahteraan. Kemakmuran tidak di dunia ini, tetapi di akhirat ..

Gebyok ini sekali simbol kekayaan di tempat kudus. Gebyok Kudus banyak digunakan di rumah-rumah sebelum 1810 AD, menjadi simbol kemuliaan dan kekayaan pemilik. lingkungan Kudus Kulon dibuat sebagai tempat khusus rumah suci tradisional.

Tumbuh kesadaran dan kebanggaan dalam warisan budaya daerah, bergabung dan menciptakan kegembiraan dalam menjaga dan mengembangkan budaya gebyok. Gebyok sekarang banyak disukai di seluruh Indonesia bahkan di dunia.

Sebelumnya, patung suci didominasi oleh bunga teratai. Hal ini dapat dimengerti karena pada saat itu, di zaman kuno, mayoritas warga dari agama Kudus adalah Hindu. Sunan Kudus, misionaris Islam Jawa, memperkenalkan ukiran bunga melati. bunga melati kecil, putih dan harum. Arti melati sebagai simbol bahwa penganut Islam pada waktu itu berjumlah kecil, namun dapat memberikan aroma untuk perimeter. Tidur di gebyok dibikin menyatu satu sama lain, dan juga terintegrasi dengan komponen lainnya. Makna simbolik dari kedekatan ini adalah Muslim dan orang-orang dari agama lain harus bersatu untuk membangun perdamaian, meskipun berbeda agama dan pendapat.

Kayu ukiran pada gebyok kayu membutuhkan tingkat tinggi kemahiran. Sampai saat ini, kemampuan ini tidak pudar. Gebyok pengrajin ditemukan di Jepara dan Kudus. Di mana mereka membangun ini keterampilan mengukir?