Polusi Udara Akibat Pabrik Picu Penyakit ISPA

Friday, May 7th 2021. | Uncategorized

Pencemaran hawa akibat aktifitas pembakaran batu bara di pabrik-pabrik Cimahi Selatan sanggup sebabkan warga di sekitaran pabrik batuk-batuk dan sesak napas. Bahkan, juga sebabkan warga rentan terkena penyakit Insfeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA). Kondisi ini rawan terjadi di kawasan industri.

Kepala Puskesmas Cimahi Selatan Mohammad Dwihadi menjelaskan, tiap perusahaan miliki bermacam limbah, merasa dari yang cair, padat hingga udara. Dampak limbah cair dan padat biasanya telah diantisipasi pabrik. Di antaranya bersama dengan IPAL atau cara pengolahan lain.

Namun, itu tidak serupa bersama dengan limbah yang dihasilkan melalui udara. “Nah, yang hawa ini sanggup berdampak langsung mengundang kasus ISPA,” tutur dia.

Menanggapi banyaknya warga di RT 5 RW 14 Kelurahan Utama, Cimahi Selatan, yang menderita penyakit paru-paru, Dwihadi menyatakan itu sanggup terjadi karena asap yang ditimbulkan pabrik terdekatnya. “Karena, yang namanya polusi udara, tidak ada yang sadar angin itu akan mengarah ke mana,” kata dia.

Terlebih, RT 5 itu sebenarnya dikeliling sejumlah pabrik. Akibatnya, asap atau debunya itu menyebar ke permukiman berikut lalu terhirup warganya. Orang yang miliki alergi dan tidak kuat, ujar Dwihadi, itu sanggup mengalami batuk-batuk dan sesak napas.

Dwihadi mengakui, kasus kesegaran di bagian paru-paru sebenarnya kerap menghinggapi permukiman di kawasan industri. Masalah kesegaran berikut biasanya dimulai bersama dengan sebagian tanda-tanda seperti batuk-batuk dan sesak napas lalu sanggup diserang ISPA. Jika telah parah, sanggup terkena penyakit tuberkulosis (TB).

Penderita ISPA itu lebih banyak terjadi di kawasan yang padat penduduk. Angkanya pun cukup tinggi. Daerah yang padat masyarakat ini biasanya berada di kawasan industri. Kepadatan masyarakat kerap tidak diimbangi luas wilayah yang kecil.

“Daerahnya kecil, tetapi rumahnya banyak. Industri itu menampung banyak pekerja, dan pekerjanya itu tinggalnya tidak jauh dari daerah industri itu,” ucap dia.

Dwihadi menyangkal pernyataan bahwa industri adalah penyebab maraknya penyakit paru-paru. Menurut dia, industri cuma sebabkan daerah sekitarnya padat penduduk.

Apalagi, di kawasan industri, pasti banyak warga pendatang dari bermacam daerah. “Berkumpul lalu sanggup saling menularkan, penyakit apa saja, sanggup ISPA, sanggup TB, singkatnya, kepadatan masyarakat kebayakan di kawasan indsutri,” kata dia.

Dwihadi memaparkan, jikalau penyakit ISPA yang dialami warga itu berkepanjangan, akan dimasukan dalam kategori pasien yang dikira menderita TB, atau biasa disebut suspect. Selain itu, jikalau ada warga yang batuk sepanjang lebih dari dua pekan, juga akan dijadikan suspect.

Dampak langsung yang diakibatkan pencemaran hawa dari aktivitas pabrik ini pernah dirasakan sendiri oleh Puskesmas Cimahi Selatan. Pabrik garmen yang berada di depan puskesmas berikut terhadap awalnya kerap mengeluarkan asap atau debu hasil pembakaran ke hawa sekitarnya seharusnya pihak pabrik menggunkan Filter Dust Collector.

Puskesmas Cimsel pun terkena debu-debu itu. Karena perihal itu, cerobong pembakaran yang awalnya pendek diminta pihak puskesmas untuk ditinggikan. Ini sehingga debu hasil pembakaran tidak menyeruak langsung ke daerah sekitarnya.

“Tapi kan yang namanya angin, walaupun telah tinggi, senantiasa saja jatuhnya ke kami (puskesmas). (Dulu) Jam-jam segini sanggup merasakan bau batu bara, untuk yang tidak kuat, napasnya akan sesak. Batuk-batuk juga,” ujar dia.

Dia mengingatkan sehingga pembuatan tempat tinggal itu perlu menyimak ventilasi sehingga sinar mataharinya sanggup masuk sehingga tempat tinggal itu tidak lembab.

Ini untuk mengantisipasi tingkat kepadatan penduduk. Menurut dia, orang yang batuk-batuk lalu dahaknya dibuang serampangan itu sangat rentan menular ke orang lain. Jika telah parah, warga berikut sanggup positif TB.

Data dari Puskesmas Cimsel menunjukkan pasien yang dikira menderita TB terhadap 2013 yaitu sebanyak 405 pasien, 2014 sebanyak 360 pasien, 317 pasien terhadap 2015, dan Januari hingga Juli 2016 telah sebanyak 207 pasien. Sedangkan kasus pasien yang menderita positif TB, terhadap 2013 sebanyak 42 kasus, 39 kasus terhadap 2014, 38 kasus terhadap 2015, dan Januari hingga Juli 2016 telah capai 26 kasus.